Minggu, 17 Mei 2015

mengingatnya menyakitkan

Lagi-lagi aku hanya bisa menatap punggungmu saja. Ini kedua kalinya kita bertemu di tahun ini. Setelah beberapa bulan kita tidak pernah bertemu lagi. Aku merindukanmu. Sangat. Jika aku bisa, aku ingin menggenggam tanganmu. Memeluk punggungmu yang hanya bisa kulihat dari kejauhan.
Suaramu masih tetap sama. Senyummu. Tawamu. Yang hanya bisa aku lihat dan aku dengar dari kejauhan. Aku merindukanmu. Sangat.
Tapi aku bisa apa. Jangankan bertemu, menatap matamu. Hanya sekedar membalas sapaankupun kau acuh tak acuh. Kau mengabaikannya.
Aku bisa apa. Aku tidak bisa berharap banyak. Aku tidak berhak lagi mendapatkannya.
Jika aku bisa kembali ke masa itu. Aku ingin selalu bisa menatapmu. Menggenggam tanganmu, tidak mengabaikanmu. Seandainya saja aku bisa. Aku mungkin tidak semerindu sekarang.
Melihatmu dari kejauhan cukup bagiku. Selama aku tau kamu baik-baik saja. Selama aku tau kamu bahagia.

Kamis, 14 Mei 2015

masa lalu. itu menurutmu

Kamu bilang ini sudah berlalu. Kamu bilang itu hanya masa lalu. Tapi bagiku ini seperti masih kemarin. Saat pertama kali kau datang, dengan kemeja lengan pendek kotak-kotak berwarna biru dan celana jeans sepinggang. Kau duduk diatas motor saat itu, menatapku yang berjalan keluar kearahmu. Dari awal memang sudah aku yang lebih dulu mendatangimu ternyata, bukan kamu.
Saat ini aku sedang berbaring sambil membayangkan genggamanmu. Sudah satu tahun berlalu, tapi aku masih bisa membayangkan dan tau bagaimana rasanya genggamanmu. Aku merindukannya. Merindukanmu yang dulu. Yang kamu bilang, sudah berlalu. Hanya masa lalu.
Bisakah kau kembali seperti dulu lagi? Aku akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi. Yang kamu inginkan. Aku akan menghargai setiap detiknya bersamamu. Aku tidak akan menyianyiakannya lagi.
Kembali. Aku mohon kembali.

Minggu, 04 Januari 2015

satu kalimat sederhana




Satu kalimat sederhana. Tanpa mengharapkan balasan.
Bahkan, saat itu kau berkata akan menungguku. 3 tahun lamanya.
Tapi kenyataannya, hanya 3 bulan.

Sudah satu tahun berlalu. Mungkin kau tidak menyadarinya.
Tapi, aku disini masih sama.
Perasaanku masih sama seperti satu tahun lalu.

Mungkin memang aku yang salah.
Tidak seharusnya aku percayakan hatiku padamu.
Mengganggapmu sebagai orang terbaik yang datang disaat yang tepat.
Aku salah.
Tidak seharusnya aku percaya ucapanmu.
Semua janji manismu.
Tidak seharusnya. Tapi aku tetap melakukannya.

Satu kalimat itu. Kini kau bisa mendengar balasannya.
Tapi mungkin sudah terlambat.
Kau tidak membalasnya kembali.